October 15th, 2007 by pijarilalang

maka kita minum bergelas-gelas tanpa jeda seperti kesetanan

seperti pemula yang minum mengejar mabuk,

membayar tahunan sia-sia yang terlewat tanpa sensasi utopis ini

merambati tubuh, melonjak-lonjak di tiap saraf tepi dan tikungan pembuluh darah…

melupa, melupa semua pedih nyeri hari kemarin

dan mengulangnya di tiap tegukan seperti mantra:

‘melupa, melupa semua pedih nyeri hari kemarin’

kau tergeletak di sudut ruangan setelah memuntahkan cairan kekuningan

dan melontarkan caci maki bilur lebam entah kepada siapa

mungkin aku, mungkin dia

aku menggigil kedinginan, beringsut perlahan

mendapati tubuhmu berpeluh dan

menembang untukmu tentang pagi esok,

‘terlupa, terlupa semua pedih nyeri hari kemarin’

[3 oktober 2007, 21:48 WIB]

August 7th, 2007 by pijarilalang

           untuk Lintang

meriap luka malam itu,

berderai-derai membasuh muka

kebas, kebas sudah

ucapmu layu sambil menelengkan kepala;

sesaat tenggelam dalam lalu lalang asap,

kali lain meracau menatap sudut di seberang ruangan

kalau aku alice lalu kau siapa?

menunggu jawab yang tak juga datang

kalau aku alice lalu kau siapa?

tanyamu layu sambil menelengkan kepala,

lalu seteguk lagi chivas dan sehisap lagi rokok.

(Jakarta, 31 Juli 2007)

April 29th, 2007 by pijarilalang

melebur kita dalam temaram lampu

bersama sosok-sosok lain yang juga resah mencari pulang

meradang bersama,

melemparkan tinju ke udara, mengutuk

bersumpah serapah dalam pedih luka

jalanan makin sepi lalu lalang makin jarang,

dan sedikit reda amuk dada

meski tak tahu akan esok atau lusa

meski sama-sama hidup dan mencari teduh untuk malam ini saja

sayangnya hanya rokok, tanpa kopi dan blues shit seperti biasa.

(emperan Plasa Indonesia, 22 April 2007)

April 26th, 2007 by pijarilalang

                                                            untuk Ninus

deras lagi hujan mendera

terhanyut sisa-sisa hari kemarin

biar lenyap di ujung jalan depan rumah kita itu

mungkin hujan memang ada untuk mengalirkan kepedihan-kepedihan

"menunggu hujan lagi kita, Nus?"

(25 april 2007 18:12:16)

April 26th, 2007 by pijarilalang

dan pasar malam pun usai sudah

dilibas deras hujan tadi malam

kita tergagap linglung di lapangan kosong itu

padahal berkali-kali hendak mampir

tapi selalu saja luput di jejalan sesak hari-hari

dan pasar malam pun usai sudah

truk-truk kembali dipenuhi sarat muatan

segala kardus muatan resah hari esok

pindah lagi, bergerak lagi mencari pagi

meski sesuap saja

April 10th, 2007 by pijarilalang

sudah pagi.

kembali melapis muka dengan tawa.

April 7th, 2007 by pijarilalang

termangu lagi di sini

menentang matahari pagi

menyapa luka yang lalu lalang tak henti

melesapkan terik yang memapar pedih

kenapa tak kunjung reda sepi ini?

7 April 2007, 09:39:10

April 7th, 2007 by pijarilalang

menelusuri jalur sepanjang kabel hitam,

nisan-nisan tak bernama,

musim ranggas pohon kamboja,

mencari lagi jalan pulang,

mencari lagi rumah tempat semua bermula.

6 april 2007, 12:01:41

April 7th, 2007 by pijarilalang

menantang aku lagi, dia itu

malam yang tak juga jera,

berkacak pinggang, segaris ejekan di senyumnya

"mari..mari..kelahi kita sampai pagi"

April 7th, 2007 by pijarilalang

sesepi inilah sepi

melirik ke kanan kiri

mencari tepian untuk menjejakkan mata

sesepi inilah serpih

jejak-jejak yang jadi buram terhapus pasang

sesepi inilah mati

nanar di hadapan malam,

menepuk-nepuk dendam di dada

4 April 2007 22:36:04